“Pemikiran, bagi umat manapun, adalah sebuah kekayaan yang tak ternilai harganya yang mereka miliki dalam kehidupan mereka,…. Sedangkan kekayaan yang bersifat materi, penemuan-penemuan ilmiah, perekayasaan industri serta hal-hal yang lainnya, masih jauh kedudukannya dibanding dengan pemikiran. Bahkan, semuanya bisa diraih melalui pemikiran, dan semata-mata bisa dilestarikan hanya oleh pemikiran.”
— Syaikh Taqiyuddin An-Nabhānī
Kutipan di atas menegaskan satu kebenaran mendasar: peradaban manusia pada hakikatnya adalah produk dari akal yang berpikir. Bukan harta, bukan teknologi, bukan pula kemegahan fisik—melainkan ide, analisis, dan kreasi intelektual yang menjadi poros kemajuan. Bagi dunia Islam, pernyataan ini bukan sekadar ungkapan filosofis, melainkan panggilan sejarah yang nyaris terlupakan. Jika pemikiran adalah sumber segala kekayaan, maka literasi—kemampuan membaca, menulis, memahami, dan mengkritisi—adalah pintu masuknya. Tanpa literasi, pemikiran tidak akan lahir, tidak akan tersebar, dan tidak akan diwariskan.
Ketika Literasi Menghidupkan Pemikiran
Dalam tradisi Islam, wahyu pertama yang turun adalah Iqra’—bacalah. Perintah itu bukan sekadar ritual, melainkan fondasi epistemologis: umat Islam dituntut untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, penggali pengetahuan, dan pencari kebenaran. Pada masa kejayaan, peradaban Islam justru dibangun di atas literasi yang luar biasa. Perpustakaan Baitul Hikmah di Baghdad bukanlah gudang buku mati, melainkan laboratorium hidup tempat para cendekiawan menerjemahkan, menelaah, dan mengembangkan ilmu dari berbagai peradaban. Mereka tidak sekadar menghafal, tetapi berpikir kritis—mereka mempertanyakan, membandingkan, dan menghasilkan penemuan yang menjadi fondasi sains modern.
Literasi pada hakikatnya adalah medium untuk menghidupkan daya nalar. Orang yang literat tidak hanya mampu menyerap informasi, tetapi juga menimbang, menyusun argumen, dan melahirkan gagasan baru. Dalam kerangka An-Nabhānī, pemikiran adalah mesin yang menggerakkan materi; dan literasi adalah bahan bakar mesin itu. Ketika umat Islam rajin membaca, menulis, dan berdiskusi, maka gagasan-gagasan besar tentang etika, tata kelola, ilmu pengetahuan, dan seni akan mengalir deras. Sebaliknya, ketika literasi surut, pemikiran menjadi beku, dan umat hanya menjadi konsumen pasif dari produk peradaban lain.Ironi Dunia Islam Kontemporer
Sayangnya, realitas dunia Islam saat ini masih jauh dari ideal. Angka melek huruf memang meningkat, tetapi literasi dalam arti fungsional—kemampuan memahami teks secara kritis, menulis dengan runtut, dan menalar secara logis—masih memprihatinkan. Banyak lembaga pendidikan Islam yang lebih menekankan hafalan tanpa pemahaman, menghafal teks tanpa konteks, dan mengulang pendapat tanpa ijtihad. Akibatnya, produk pemikiran orisinal yang lahir dari dunia Islam relatif minim; kita lebih banyak menjadi konsumen teknologi, konsumen teori, bahkan konsumen ideologi, daripada menjadi produsen peradaban.
Padahal, tantangan zaman kian kompleks. Persoalan ekonomi, politik, lingkungan, dan sosial-budaya menuntut jawaban-jawaban baru yang tidak mungkin ditemukan hanya dengan merujuk pada masa lalu secara literal. Di sinilah literasi berperan sebagai alat untuk melakukan ijtihad kolektif. Tanpa budaya baca yang mendalam dan budaya tulis yang disiplin, umat Islam akan kesulitan merumuskan narasi besar yang relevan dengan kebutuhan kekinian, dan akan terus tertinggal dalam arus peradaban global.
Membangun Gerakan Literasi Sebagai Jalan Kebangkitan
Untuk mengembalikan martabat pemikiran dalam dunia Islam, langkah konkret yang paling mendesak adalah menghidupkan gerakan literasi secara masif. Bukan sekadar gerakan fisik (mendirikan perpustakaan atau membagikan buku), tetapi juga gerakan kultural: menumbuhkan kegemaran membaca kritis, melatih menulis argumentatif, dan membudayakan diskusi intelektual di semua lapisan masyarakat. Para pendidik, ulama, dan cendekiawan harus menjadi teladan dalam hal ini—tidak cukup hanya menjadi penceramah yang baik, tetapi juga penulis dan pembaca yang produktif.
Keluarga, sebagai institusi pertama pendidikan, perlu kembali menghidupkan tradisi bercerita, membaca bersama, dan bertanya jawab. Sekolah-sekolah dan pesantren harus mereformasi kurikulumnya agar tidak hanya mengajarkan apa yang harus dihafal, tetapi juga bagaimana cara bertanya dan mencari sendiri jawabannya. Di era digital, literasi juga mencakup kemampuan menyaring informasi, membedakan fakta dan opini, serta menggunakan media sosial untuk menyebarkan gagasan konstruktif, bukan sekadar hiburan atau kontroversi.
Penutup: Pemikiran Adalah Kekayaan Abadi
Ungkapan An-Nabhānī mengingatkan kita bahwa peradaban tidak diukur dari megahnya gedung atau canggihnya alat, melainkan dari kedalaman wawasan dan ketajaman nalar suatu bangsa. Pemikiran adalah kekayaan yang tidak akan pernah habis, bahkan bertambah nilainya ketika dibagikan dan diwariskan. Maka, bagi dunia Islam, literasi adalah jembatan emas menuju kebangkitan itu. Mari kita mulai dari langkah kecil: baca satu halaman, tulis satu paragraf, dan diskusikan satu ide. Sebab, dari pemikiran yang terasah, lahirlah segala solusi; dan hanya dengan pemikiran pula, solusi itu tetap terjaga untuk generasi mendatang. Wallahu a’lam. [Sofyan]

0 Comments